It's ALL about EPPHY
......On My Way To Become Good Wife And Great Mother.......
Go!
"I have lived through much and I now I think I have found what is needed for happiness. A quiet, secluded life in the country with possibility of being useful to people" -Tolstoy
Monday, June 10, 2013
Cekelan Pulpen
Nenekku pernah bercerita, bahwa ketika aku masih bayi dulu, seorang pamanku bilang "arek iki mbesok pan gede cekelane pulpen" kelak saat besar nanti anak ini pegangannya adalah pena. Beberapa waktu aku sempat memikirkan hal ini, apa artinya cekelan pulpen? Kuli tinta gitu maksudnya? Jurnalis? Penulis? Entahlah. Yang jelas aku tumbuh bersama buku-buku dan menyukai dunia tulis menulis. Apapun profesiku kelak, aku akan menjalaninya dengan senang hati.
Sunday, June 9, 2013
Closer by Travis
've had enough of this parade
I'm thinking of the words to say
We open up unfinished parts
Broken up, it's only luck
And when I see you then I know it will be next to me
And when I need you then I know you will be there with me
I'll never leave you
Just need to get closer, closer
Lean on me now, lean on me now
Closer, closer
Lean on me now, lean on me now
Keep waking up without you here
Another day, another year
I seek the truth we set apart
[Incomprehensible] a second chance
And when I see you then I know it will be next to me
And when I need you then I know you will be there with me
[ From:
I ll never leave you
Just need to get closer, closer
Lean on me now, lean on me now
Closer, closer
Lean on me now, lean on me now
Lean on me now
And when I see you then I know it will be next to me
And when I need you then I know you will be there with me
I'll never leave you
Just need to get closer, closer
Lean on me now, lean on me now
Closer, closer
Lean on me now, lean on me now
Lean on me now
Closer, closer
Closer, closer
I'm thinking of the words to say
We open up unfinished parts
Broken up, it's only luck
And when I see you then I know it will be next to me
And when I need you then I know you will be there with me
I'll never leave you
Just need to get closer, closer
Lean on me now, lean on me now
Closer, closer
Lean on me now, lean on me now
Keep waking up without you here
Another day, another year
I seek the truth we set apart
[Incomprehensible] a second chance
And when I see you then I know it will be next to me
And when I need you then I know you will be there with me
[ From:
I ll never leave you
Just need to get closer, closer
Lean on me now, lean on me now
Closer, closer
Lean on me now, lean on me now
Lean on me now
And when I see you then I know it will be next to me
And when I need you then I know you will be there with me
I'll never leave you
Just need to get closer, closer
Lean on me now, lean on me now
Closer, closer
Lean on me now, lean on me now
Lean on me now
Closer, closer
Closer, closer
Friday, June 7, 2013
Sunday, May 26, 2013
Workshop Relawan OTBA2013 di Aula Universitas Paramadina
Selalu ada cerita dari sebuah perjalanan.....
Gak banyak yang bisa gue ambil dari kisah perjalanan gue ke Aula Kampus Paramadina untuk mengikuti workshop relawan 1001 buku kemaren. Karena gue sedang sakit, jadi gue gak bisa mengikuti acara itu sampai akhir.
Di antara pembicara yang hadir dalam acara tersebut, yaitu dari Aksi Cepat Tanggap, Taman Baca Pelangi dan Indonesia Mengajar, yang paling berkesan adalah dari Indonesia Mengajar yang diwakili oleh Jessica Hutting, beliau adalah Pengajar Muda yang ditempatkan di Sahire, sebuah pulau terluar Indonesia yang berbatasan dengan Filipina.
Jessica Hutting bercerita sedikit tentang Indonesia Mengajar, menjadi relawan dan para anak didiknya di Sahire, beliau juga memperlihatkan foto-foto yang diambil ketika beliau mengajar di sana. Kata Jessica, di sana sangat minim fasilitas, tapi warga di sana sangat tulus dan mau berbagi dengan orang lain.
Gue sempat menitikkan air mata melihat video yang berisi foto-foto anak didik Jessica, wajah-wajah lugu mereka ngingetin gue pada anak-anak yang pernah gue ajar ketika di kampung dulu. Hingga terbesit angan di hati gue, semoga one day gue bisa membuka taman baca dan mengajak anak-anak untuk belajar dan bermain bersama seperti dulu.
Gak banyak yang bisa gue ambil dari kisah perjalanan gue ke Aula Kampus Paramadina untuk mengikuti workshop relawan 1001 buku kemaren. Karena gue sedang sakit, jadi gue gak bisa mengikuti acara itu sampai akhir.
Di antara pembicara yang hadir dalam acara tersebut, yaitu dari Aksi Cepat Tanggap, Taman Baca Pelangi dan Indonesia Mengajar, yang paling berkesan adalah dari Indonesia Mengajar yang diwakili oleh Jessica Hutting, beliau adalah Pengajar Muda yang ditempatkan di Sahire, sebuah pulau terluar Indonesia yang berbatasan dengan Filipina.
Jessica Hutting bercerita sedikit tentang Indonesia Mengajar, menjadi relawan dan para anak didiknya di Sahire, beliau juga memperlihatkan foto-foto yang diambil ketika beliau mengajar di sana. Kata Jessica, di sana sangat minim fasilitas, tapi warga di sana sangat tulus dan mau berbagi dengan orang lain.
Gue sempat menitikkan air mata melihat video yang berisi foto-foto anak didik Jessica, wajah-wajah lugu mereka ngingetin gue pada anak-anak yang pernah gue ajar ketika di kampung dulu. Hingga terbesit angan di hati gue, semoga one day gue bisa membuka taman baca dan mengajak anak-anak untuk belajar dan bermain bersama seperti dulu.
Friday, May 24, 2013
Interview YOTCA with Billy Boen at Plaza Indonesia
Awalnya sempat pasrah, gue bakal kehilangan kesempatan itu, dan sia-sia semua assignment yang udah gue kerjain selama sebulan di sela-sela kesibukan gue ngerjain tugas kuliah dan kerja.Tapi akhirnya gue bisa bernafas lega dan merasa puas banget. Apapun nanti keputusannya gue udah gak peduli lagi, gue puas banget bisa berpartisipasi dalam Young On Top Campuss Ambasador dan bisa lolos sampai tahap akhir. Gue puas. Apalagi gue ngedapetin kesempatan buat belajar, ngobrol dan sharing langsung dengan sosok inspirator gue, mas Billy Boen. Gue puas dan bersyukur banget. This chance is priceless.
Billy Boen, pendiri Young on Top ini ternyata sangat down to earth dan easy going banget. Gue kagum. Beliau ngasih gue waktu buat memperkenalkan diri gue, kemudian beliau memberikan pertanyaan-pertanyaan standar yang sudah pernah gue prediksikan sebelumnya, tapi gue gak yakin dengan jawaban yang udah gue kasih, banyak yang ngeblank, hehe. Over all, gue udah cukup puas dengan apa yang udah gue lakukan hingga saat ini. Gue puas. Di akhir wawancara mas Billy Boen memberikan gue waktu untuk menjawab pertanyaan buat mas Billy, dan dengan spontan gue tanya gimana sih caranya biar bisa mempuk rasa percaya diri. Dan beliau menjawab dengan santai, kenali kelebihan dan kekuranganmu, gali kelebihanmu dan perbaiki kekuranganmu. Singkat tapi padat. Gue suka cara mas Billy Boen menjawab pertanyaan gue dan menginterview gue , gue suka cara mas Billy Boen dan ketiga mentor YOTCA menyambut gue dan gue respect banget.
Thank you YOTCA, akhirnya malam ini gue terdampar di Plaza Indonesia, nyasar di ex Plaza, menikmati deretan gedung tinggi di malam hari, dan menyaksikan kucuran air mancur Bunderan HI yang dihiasi kelap-kelip lampu kota. Senangnya... gue senang banget malam ini. Alhamdulillah....Terjatuh by Fahd Djibran
taken frrom http://www.fahdisme.com/2013/05/terjatuh.html
***
Ini cerita tentang seorang perempuan yang terjatuh.
***
Aku melihat perempuan itu berjalan terburu-buru dengan langkah-langkah yang lelah. Rambutnya tak bercahaya, lebih terlihat tak terururs dan bercabang. Wajahnya tidak gembira, tentu saja: Ada sesuatu yang dia sembunyikan di dalam dirinya—menjadi beban bagi hatinya.
“Kejar mimpimu!” Suara itu, seperti berasal dari segala penjuru, membuatnya berjalan lebih cepat lagi. Tapi kakinya yang mungil semakin lelah dihajar angin yang membuat sekujur tubuhnya menggigil. Dan ketika kaki kirinya tersandung sesuatu yang membuatnya terjerembab, sekedipan mata dia segera bangkit lagi: Memaksa dirinya berusaha lebih keras lagi. “Seribu kali jatuh, seribu kali bangkit!” Teriaknya.
Aku melihat perempuan itu ingin menangis, tapi ia tahan sekuat tenaga. Dia tahan sekuat tenaga. Kemudian dia kembangkan lagi dadanya, dia paksakan senyumnya. “Aku bisa! Aku bisa! Aku bisa!” Gumamnya. Mengulang-ulang semacam mantra yang ia kira akan membuat semuanya baik-baik saja.
Maka ketika ia mulai meniti sebuah tangga dengan terburu-buru, perempuan itu terjatuh. Ternyata mantranya tak bisa menolak gravitasi bumi!
Aku menarik napas, sebenarnya ingin segera menolongnya, tetapi sesuatu yang tak bisa kuceritakan di sini membuatku tak bisa melakukannya. Beberapa langkah dari tempatnya terjatuh, aku berdiri dan mendoakannya semoga baik-baik saja.
Perempuan itu, entah siapa namanya, dengan tubuh gemetar tergeletak malang di kaki tangga. “Aku bisa! Aku bisa! Aku bisa!” Katanya dalam suara parau dan tangan gemetar. “Aku bisa! Aku bisa! Aku bisa!” Aku melihat matanya yang penuh impian, menghitung angka di langit-langin imajinasinya. Aku melihat wajahnya yang lelah, menghantui hari-hari dan menghabiskan doa-doanya. “Aku bisa! Aku bisa! Aku bisa!” Perempuan itu masih mengulang-ulang mantranya, jadi terdengar menyedihkan.
Perempuan itu akhirnya menangis. Dia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. “Kejar mimpimu!” Katanya di sela-sela tangisnya. “Seribu kali jatuh, seribu kali bangkit!” Dia mencoba mantra lainnya. “Kamu bisa! Kamu bisa! Kamu bisa!” Dia terus memaksa dirinya.
Aku mendekatinya, akhirnya. Perlahan aku mulai duduk di sampingnya. Perempuan itu terus menangis.
“Kamu akan sembuh,” aku mulai memberanikan diri untuk mengajaknya bicara, “Tapi sekarang, jangan paksa dirimu untuk berdiri. Kamu akan sembuh.”
Perempuan itu terus menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Bahunya berguncang. “Aku bisa! Aku bisa! Aku bisa!” Dia terus mengulang-ulang mantranya.
“Kau dengar suara musik yang lembut mengalun dari kejauhan?” Tanyaku.
Perempuan itu berhenti menangis dan menajamkan pendengarannya. Beberapa detik kemudian, dia menatap asing ke arahku. “Aku tak mendengarnya,” responsnya.
“Dengarkan lagi. Dengarkan.” Aku memintanya mencoba sekali lagi.
Sebelah alisnya terangkat. Dia mencoba mencari sumber suara dan berusaha mendengarkan musik lembut yang kumaksud. “Dari mana datangnya suara itu? Aku tak mendengar apa-apa!”
“Coba lagi. Dengarkan musiknya.” Kataku.
Beberapa detik kemudian, perempuan itu tersenyum. Ia menutup matanya dan mulai mengangguk-anggukkan kepalanya mengikuti musik yang kini beresonansi di kepalanya.
“Kau sudah mendengarnya?” Tanyaku.
Ia mengangguk lembut, masih dengan kedua mata terpejam. Tiba-tiba airmata meluncur lembut di kedua tebing pipinya. “Aku mendengarnya. Indah sekali.” Jawabnya, “Tapi suara ini tidak datang dari kejauhan, kan?”
Aku tersenyum.
“Suara itu datang dari sini,” dia menyentuh dadanya sendiri, “Suara itu dekat sekali, dari dalam diriku sendiri,” ujar perempuan itu.
“Ya, selama ini kamu jauh dengan dirimu sendiri, kan?” Jawabku.
Perempuan itu tersenyum tetapi terus menangis. “Aku sedang mengejar masa depan. Aku harus mengejar mimpi-mimpiku! Aku bisa! Aku bisa! Aku bisa! Seribu kali jatuh, seribu kali bangkit!” Jawabnya penuh semangat.
“Aku mengerti,” jawabku, “Tapi kamu juga perlu mengerti dirimu sendiri: Kakimu tak terbuat dari besi dan kamu tak bisa melawan gravitasi bumi. Jika lelah, mengapa terus berlari? Jika terjatuh, kamu akan sembuh, tapi jangan paksa dirimu untuk segera berdiri. Masa depan mungkin menjanjikan banyak kebahagiaan, tetapi kamu juga perlu mewarnai masa kini dengan senyum dan tawa yang nyata.”
Perempuan itu terdiam beberapa saat. “Kini aku mendengar musik yang begitu indah dari dalam diriku sendiri.” Katanya kemudian.
“Tidak semua jalan harus kita tempuh dengan berlari. Mungkin kita harus berhenti—atau dipaksa berhenti. Terjatuh adalah momen saat kita bisa mendengarkan musik yang mengalun dari dalam diri kita sendiri—mengajak kita menari.”
Perempuan itu tersenyum. Dia belum bisa bangkit dari jatuhnya kali ini. Tidak apa-apa. Dia akan sembuh dan baik-baik saja. Kini aku melihat napasnya yang jadi lebih tenang, wajahnya yang jadi bercahaya.
***
Aku senang jika cerita ini membuatmu bicara pada dirimu sendiri. Aku senang jika kamu akhirnya mulai mendengarkan perempuan itu, setelah sekian lama musik dalam dirinya tak kamu hiraukan.
Ya, mungkin ini cerita tentang kamu. Tentang perempuan yang berlari dan terjatuh dalam hidup kita masing-masing.
Allâhumma lâ sahla illâ mâ ja’altahu sahlâ wa Anta taj’alul hazna idza syi’ta sahlâ. Tuhan, tiada kemudahan kecuali apa-apa yang telah Engkau jadikan mudah. Dan apabila Engkau berkehendak, betapa mudah bagimu untuk mengubah segala kesulitan menjadi kemudahan.
Iya, perempuan yang terjatuh itu aku....
tidak seharusnya aku berlari dan terus berlari...
ada kalanya aku harus berhenti sejenak dan mendengarkan irama musik yang mengalun dari dalam hatiku.....harusnya.....
***
Ini cerita tentang seorang perempuan yang terjatuh.
***
Aku melihat perempuan itu berjalan terburu-buru dengan langkah-langkah yang lelah. Rambutnya tak bercahaya, lebih terlihat tak terururs dan bercabang. Wajahnya tidak gembira, tentu saja: Ada sesuatu yang dia sembunyikan di dalam dirinya—menjadi beban bagi hatinya.
“Kejar mimpimu!” Suara itu, seperti berasal dari segala penjuru, membuatnya berjalan lebih cepat lagi. Tapi kakinya yang mungil semakin lelah dihajar angin yang membuat sekujur tubuhnya menggigil. Dan ketika kaki kirinya tersandung sesuatu yang membuatnya terjerembab, sekedipan mata dia segera bangkit lagi: Memaksa dirinya berusaha lebih keras lagi. “Seribu kali jatuh, seribu kali bangkit!” Teriaknya.
Aku melihat perempuan itu ingin menangis, tapi ia tahan sekuat tenaga. Dia tahan sekuat tenaga. Kemudian dia kembangkan lagi dadanya, dia paksakan senyumnya. “Aku bisa! Aku bisa! Aku bisa!” Gumamnya. Mengulang-ulang semacam mantra yang ia kira akan membuat semuanya baik-baik saja.
Maka ketika ia mulai meniti sebuah tangga dengan terburu-buru, perempuan itu terjatuh. Ternyata mantranya tak bisa menolak gravitasi bumi!
Aku menarik napas, sebenarnya ingin segera menolongnya, tetapi sesuatu yang tak bisa kuceritakan di sini membuatku tak bisa melakukannya. Beberapa langkah dari tempatnya terjatuh, aku berdiri dan mendoakannya semoga baik-baik saja.
Perempuan itu, entah siapa namanya, dengan tubuh gemetar tergeletak malang di kaki tangga. “Aku bisa! Aku bisa! Aku bisa!” Katanya dalam suara parau dan tangan gemetar. “Aku bisa! Aku bisa! Aku bisa!” Aku melihat matanya yang penuh impian, menghitung angka di langit-langin imajinasinya. Aku melihat wajahnya yang lelah, menghantui hari-hari dan menghabiskan doa-doanya. “Aku bisa! Aku bisa! Aku bisa!” Perempuan itu masih mengulang-ulang mantranya, jadi terdengar menyedihkan.
Perempuan itu akhirnya menangis. Dia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. “Kejar mimpimu!” Katanya di sela-sela tangisnya. “Seribu kali jatuh, seribu kali bangkit!” Dia mencoba mantra lainnya. “Kamu bisa! Kamu bisa! Kamu bisa!” Dia terus memaksa dirinya.
Aku mendekatinya, akhirnya. Perlahan aku mulai duduk di sampingnya. Perempuan itu terus menangis.
“Kamu akan sembuh,” aku mulai memberanikan diri untuk mengajaknya bicara, “Tapi sekarang, jangan paksa dirimu untuk berdiri. Kamu akan sembuh.”
Perempuan itu terus menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Bahunya berguncang. “Aku bisa! Aku bisa! Aku bisa!” Dia terus mengulang-ulang mantranya.
“Kau dengar suara musik yang lembut mengalun dari kejauhan?” Tanyaku.
Perempuan itu berhenti menangis dan menajamkan pendengarannya. Beberapa detik kemudian, dia menatap asing ke arahku. “Aku tak mendengarnya,” responsnya.
“Dengarkan lagi. Dengarkan.” Aku memintanya mencoba sekali lagi.
Sebelah alisnya terangkat. Dia mencoba mencari sumber suara dan berusaha mendengarkan musik lembut yang kumaksud. “Dari mana datangnya suara itu? Aku tak mendengar apa-apa!”
“Coba lagi. Dengarkan musiknya.” Kataku.
Beberapa detik kemudian, perempuan itu tersenyum. Ia menutup matanya dan mulai mengangguk-anggukkan kepalanya mengikuti musik yang kini beresonansi di kepalanya.
“Kau sudah mendengarnya?” Tanyaku.
Ia mengangguk lembut, masih dengan kedua mata terpejam. Tiba-tiba airmata meluncur lembut di kedua tebing pipinya. “Aku mendengarnya. Indah sekali.” Jawabnya, “Tapi suara ini tidak datang dari kejauhan, kan?”
Aku tersenyum.
“Suara itu datang dari sini,” dia menyentuh dadanya sendiri, “Suara itu dekat sekali, dari dalam diriku sendiri,” ujar perempuan itu.
“Ya, selama ini kamu jauh dengan dirimu sendiri, kan?” Jawabku.
Perempuan itu tersenyum tetapi terus menangis. “Aku sedang mengejar masa depan. Aku harus mengejar mimpi-mimpiku! Aku bisa! Aku bisa! Aku bisa! Seribu kali jatuh, seribu kali bangkit!” Jawabnya penuh semangat.
“Aku mengerti,” jawabku, “Tapi kamu juga perlu mengerti dirimu sendiri: Kakimu tak terbuat dari besi dan kamu tak bisa melawan gravitasi bumi. Jika lelah, mengapa terus berlari? Jika terjatuh, kamu akan sembuh, tapi jangan paksa dirimu untuk segera berdiri. Masa depan mungkin menjanjikan banyak kebahagiaan, tetapi kamu juga perlu mewarnai masa kini dengan senyum dan tawa yang nyata.”
Perempuan itu terdiam beberapa saat. “Kini aku mendengar musik yang begitu indah dari dalam diriku sendiri.” Katanya kemudian.
“Tidak semua jalan harus kita tempuh dengan berlari. Mungkin kita harus berhenti—atau dipaksa berhenti. Terjatuh adalah momen saat kita bisa mendengarkan musik yang mengalun dari dalam diri kita sendiri—mengajak kita menari.”
Perempuan itu tersenyum. Dia belum bisa bangkit dari jatuhnya kali ini. Tidak apa-apa. Dia akan sembuh dan baik-baik saja. Kini aku melihat napasnya yang jadi lebih tenang, wajahnya yang jadi bercahaya.
***
Aku senang jika cerita ini membuatmu bicara pada dirimu sendiri. Aku senang jika kamu akhirnya mulai mendengarkan perempuan itu, setelah sekian lama musik dalam dirinya tak kamu hiraukan.
Ya, mungkin ini cerita tentang kamu. Tentang perempuan yang berlari dan terjatuh dalam hidup kita masing-masing.
Allâhumma lâ sahla illâ mâ ja’altahu sahlâ wa Anta taj’alul hazna idza syi’ta sahlâ. Tuhan, tiada kemudahan kecuali apa-apa yang telah Engkau jadikan mudah. Dan apabila Engkau berkehendak, betapa mudah bagimu untuk mengubah segala kesulitan menjadi kemudahan.
Iya, perempuan yang terjatuh itu aku....
tidak seharusnya aku berlari dan terus berlari...
ada kalanya aku harus berhenti sejenak dan mendengarkan irama musik yang mengalun dari dalam hatiku.....harusnya.....
Sunday, May 19, 2013
Settle Down
Gue pengen istirahat.....Sakit gue yang tak kunjung sembuh, kekhawatiran orang tua di rumah, beban yang semakin lama semakin menggelayut... dan akhirnya gue putusin untuk settle down, berhenti sejenak. Tapi bukan berarti gue mundur, gue tetep akan memperjuangkan semua impian dan cita-cita gue yang sudah mengakar dalam otak dan hati gue, hanya saja saat ini gue butuh take a rest, gue butuh jeda, gue butuh koma.
Kegiatan gue yang hampir menggila, kerjaan kantor, bertabrakan dengan tugas kuliah dan UAS membuat gue agak sedikit gila. Gue kehilangan me time yang selalu gue agung-agungkan, gue kehilangan waktu untuk nulis di blog, gue kehilangan waktu untuk nonton film kesukaan gue, gue kehilangan banyak waktu berharga. Meski sebenarnya gue juga dapetin hal yang lebih worth it tapi gue capek.
Lepaskan hal-hal yang tidak ingin atau tidak perlu kita
lakukan. Berikan kesempatan-kesempatan yang tidak berada di dalam daftar
tersebut kepada orang lain. Buat prioritas dan pastikan semua hal yang berada
di dalam daftar itu bisa kita lakukan dengan sepenuh hati dan bertanggung
jawab. Lalu penuhi semuanya satu persatu dan jalani sampai selesai.(Alanda Kariza - Dream catcher )
Friday, May 10, 2013
Hidup Selalu Bisa Memberi kejutan
Gue merasa cukup puas dengan dua bulan ini. Tugas dari seluruh
mata kuliah udah gue kerjain dengan baik, gue juga udak cukup aktif berdiskusi,
meski jarang banget dan hampir gak pernah baca materi kuliah tapi gue udah cukup
puas kok, setidaknya semester ini jauh
baik dari semester sebelumnya. Semoga semester ini nilainya juga jauh lebih
baik dari semester kemaren.
Selain sibuk ngerjain tugas kuliah, gue juga sibuk membuat
artikel untuk persyaratan mendaftar sebagai Young on Top Campus Ambassador. Empat
artikel dalam 4 minggu. Alhamdulillah semua bisa gue selesaikan dengan baik.
Dari keempat artikel tersebut yang pembuatannya paling berkesan adalah artikel
terakhir, tentang inspirator dan impian terbesar gue. Jujur awalnya gue ngerasa
blank banget, gue gak tau mau cerita tentang siapa dan tentang apa. Gue emang
punya banyak inspirator dan gue juga punya banyak impian, tapi gue ngerasa
susah jika harus milih. Akhirnya gue pilih salah satu inspirator gue yang paling
dekat dengan passion gue, beliau adalah Ahmad Fuadi. Tapi minggu itu pikiran
gue lagi mampet, bahkan sampai H-1 deadline pengumpulan artikel gue belum punya
apa-apa, tulisan gue masih kosong, sampai akhirnya dengan tanpa sengaja gue
ngeliat tayangan televisi yang menampilkan Ahmad Fuadi, beliau cerita banyak
tentang perjuangannya, tentang mantra man jadda wa jadda-nya dan tentang
extramile yang beliau tempuh untuk menggapai mimpi-mimpinya. Dan alhamdulillah,
tayangan tersebut berarti banget buat gue dan gue langsung nyelesaiin artikel
gue sampe jam 1 dini hari dan bisa gue submit pagi harinya sebelum deadline jam
18.00 WIB. Gue tau, kemungkinan gue untuk lolos YOTCA kecil banget, tapi gue
gak berkecil hati, yang penting gue udah berusaha dan setidaknya gue pernah
lolos seleksi tahap pertama. Jika gue gak keterima disini berarti ini bukan
jalan gue, dan pasti masih banyak jalan lain yang bisa gue tempuh.
Meski dengan kesibukan yang cukup padat gue selalu
menyempatkan diri untuk mencari hiburan dengan hal-hal yang gue sukai, yakni
buku, music dan movie. Gue puas banget bisa mendatangi banyak acara acara seru.
Berburu buku Benabook gratis di Leksika city, launching Benabook di FX Plaza,
konser Maliq & d’essensial di Plaza Semanggi, konser Ada Band di Mall
Kelapa Gading, launching buku Titik Nol oleh Agustinus Wibowo dan diskusi
Perempuan Tanpa Nama di Kinokuniya Senayan, nonton Film Java Heat di Djakarta Theatre dan Talk Show Java Heat di At America Pasific Place, juga nonton film
Magic Tree di Blitz Pasific Place dalam acara Kidfest 2013, launching buku Qanita
Romance dari Mizan di Cafe Tjikini, berziarah ke Taman makam Pahlawan di kalibata, nonton film gratis di Festival Film Eropa 2013 di IFI Salemba dan Erasmus Huis. Dan masih ada beberapa event lagi yang
terlewat dari ingatan. Nyesel banget semuanya gak bisa gue liput dan tulis satu
persatu di blog seperti biasanya. Terlalu banyak yang berkecamuk di kepala dan
moment-moment itu menguap begitu saja.
Ah, hidup memang selalu memberikan banyak kejutan...
Terimakasih ya Allah...............
Me & Ario Bayu di At America di acara talk show Java Heat
Pose di Kedutaan Besar Belanda di acara Festival Film Eropa 2013
Ada Band lagi manggung di mall Kelapa Gading
Perempuan Tanpa Nama di Kinokuniya Senayan with anak2 Goodreads Indonesia
Kiriman buku traveling gratisan dari sang Adik tercintah #peluuuuuuk
Pose pas lagi nonton bareng Java Heat di Djakarta Theatre ana Noviellya
Launching buku pemenang Qanita Romance Mizan di Cafe Tjikini
Lagi di Taman Makam Pahlawan di kalibata
Java Heat all artist di At America
Me and Noviellya
Thursday, May 9, 2013
Melodi Suara Lainnya
Sejak beli buku Kisah Lainnya pada akhir tahun lalu, baru kali ini aku berkesempatan dengerin lagu-lagu yg jadi bonus track di buku tsb.
Mendengarkan melodi ramuan mereka sekilas kisah-kisah yg di paparkan dlm buku kisah lainnya muncul satu persatu. Perjuangan Ariel, Uki, Lukman, Reza dan David dalam menjalani proses kehidupan di 2010-2012.
Dari semua track, aku paling suka yg Langit Tak Mendengar, cocok buat di jadikan back sound baca puisi.
Mendengarkan melodi ramuan mereka sekilas kisah-kisah yg di paparkan dlm buku kisah lainnya muncul satu persatu. Perjuangan Ariel, Uki, Lukman, Reza dan David dalam menjalani proses kehidupan di 2010-2012.
Dari semua track, aku paling suka yg Langit Tak Mendengar, cocok buat di jadikan back sound baca puisi.
Note to My Self
Pencapaian?
Benarkah kata2 itu yg menjadi titik akhir dar segala kerja keras, usaha, doa dan fokus pikiranku selama ini?
Hanya demi sebuah pencapaian hingga mengabaikan segala.
Pencapaian apa?
Seberapa pentingkah pencapaian itu?
*aku menggeleng*
pencapaian semu itu membuatku lupa diri, lepas kendali, memutar kesegala penjuru arah, namun sejatinya hanya diam di tempat.
Untuk apa semua pencapaian itu? Hanya sebagai ajang pembuktian diri? Mengatasnamakan pengalaman dan kepuasan batin? Hingga semua hal yang vital jadi terabaikan.
Non sense.
Settle down baby, semua ada masanya masing-masing, jangan maruk!
Prioritaskan apa yg menjadi minat utamamu. Jangan semuanya dikejar, dan semuanya berantakan. Stay focus.
Benarkah kata2 itu yg menjadi titik akhir dar segala kerja keras, usaha, doa dan fokus pikiranku selama ini?
Hanya demi sebuah pencapaian hingga mengabaikan segala.
Pencapaian apa?
Seberapa pentingkah pencapaian itu?
*aku menggeleng*
pencapaian semu itu membuatku lupa diri, lepas kendali, memutar kesegala penjuru arah, namun sejatinya hanya diam di tempat.
Untuk apa semua pencapaian itu? Hanya sebagai ajang pembuktian diri? Mengatasnamakan pengalaman dan kepuasan batin? Hingga semua hal yang vital jadi terabaikan.
Non sense.
Settle down baby, semua ada masanya masing-masing, jangan maruk!
Prioritaskan apa yg menjadi minat utamamu. Jangan semuanya dikejar, dan semuanya berantakan. Stay focus.
Wednesday, May 8, 2013
Terbangun di tengah malam karena sakit....
Sudah lama aku tak merasakan harus terkapar di atas tempat tidur seperti ini, terhitung sudah sekitar setahun yang lalu, pas aku pindah kamar sama Retno di Citeureup dulu. Waktu selama sebulan penuh aku sakit, tapi harus tetap menjalankan aktivitas seperti biasanya, sebulan yang cukup menyesakkan.
Kini masa-masa itu sepertinya akan kembali lagi.
Mungkin karena sudah
Sudah lama aku tak merasakan harus terkapar di atas tempat tidur seperti ini, terhitung sudah sekitar setahun yang lalu, pas aku pindah kamar sama Retno di Citeureup dulu. Waktu selama sebulan penuh aku sakit, tapi harus tetap menjalankan aktivitas seperti biasanya, sebulan yang cukup menyesakkan.
Kini masa-masa itu sepertinya akan kembali lagi.
Mungkin karena sudah
Wednesday, May 1, 2013
Pengen Nangis....
#gak bakal nangis kalo gue gak lagi sakit, lagi denger kabar buruk dari kampung, atau gue terlalu lelah......
Thursday, April 11, 2013
I Wont Give Up - Jason Mraz
When I look into your eyes
It's like watching the night sky
Or a beautiful sunrise
Well, there's so much they hold
And just like them old stars
I see that you've come so far
To be right where you are
How old is your soul?
Well, I won't give up on us
Even if the skies get rough
I'm giving you all my love
I'm still looking up
And when you're needing your space
To do some navigating
I'll be here patiently waiting
To see what you find
'Cause even the stars they burn
Some even fall to the earth
We've got a lot to learn
God knows we're worth it
No, I won't give up
I don't wanna be someone who walks away so easily
I'm here to stay and make the difference that I can make
Our differences they do a lot to teachus how to use
The tools and gifts we got, yeah, we got a lot at stake
And in the end, you're still my friend at least we did intend
For us to work we didn't break, we didn't burn
We had to learn how to bend without the world caving in
I had to learn what I've got, and what I'm not, and who I am
I won't give up on us
Even if the skies get rough
I'm giving you all my love
I'm still looking up, still looking up.
Well, I won't give up on us (no I'm not giving up)
God knows I'm tough enough (I am tough, I am loved)
We've got a lot to learn (we're alive, we are loved)
God knows we're worth it (and we'reworth it)
I won't give up on us
Even if the skies get rough
I'm giving you all my love
I'm still looking up
Subscribe to:
Posts (Atom)


.jpg)





















.jpg)







