It's ALL about EPPHY

......On My Way To Become Good Wife And Great Mother.......

Go!

"I have lived through much and I now I think I have found what is needed for happiness. A quiet, secluded life in the country with possibility of being useful to people" -Tolstoy

Friday, December 7, 2012

Review : Kisah Lainnya

My rating: 5 of 5 stars
Berawal dari ketidaksengajaan sewaktu jalan-jalan di Cibinong Square dan menemukan sebuah buku merah dengan lambang bulu di covernya. Peterpan, itu hal yang pertama kali mampir d benakku. Terang saja, aku langsung membuka-buka dan mengintip cerita yang ada di dalamnya. Seketika rasa penasaran tumbuh, aku ingin banget membawanya pulang, tapi aku sedang tidak membawa banyak uang saat itu, jadi kuurungkan niat untuk membelinya.

Seminggu berselang, keinginan untuk membeli buku Kisah Lainnya sudah tak terbendung lagi, meskipun di kamar masih menumpuk beberapa judul buku yang belum sempat terbaca, tapi akhirnya aku membelinya juga lewat bukabuku.com. Tak seberapa lama, buku itu sampai, tapi berhubung waktunya bertepatan dengan detik-detik menuju UAS, buku Kisah Lainnya harus aku anggurkan dahulu. Baru setelah dua bulan berselang, aku mempunyai banyak waktu senggang untuk menamatkannya.

"Jadi hidup telah memilih, menurunkan aku ke bumi"

Terharu, itu kata yang pertama mampir di otakku tatkala membaca buku ini. Benar-benar gak nyangka Ariel dkk mempunya kisah hidup yang sedemikian dramatis. Mereka segerombolan anak band yang doyan ngeband, terkenal, kena masalah, hingga akhirnya bangkit dan berkarya lagi. Kisah-kisah yang tertoreh cukup sederhana namun menggugah. Ada kisah yang membuat aku sampai menitikka air mata haru ketika membacanya, yaitu ketika David tergeletak di rumah sakit dan kemudian Uki datang dan membisikkan kata maaf di telinga David. Kisah itu menggambarkan eratnya persahabatan di antara mereka.

Kisah Ariel di penjara, Reza dan Lukman yang kembali menemukan Tuhan, Uki yang memperbaiki kualitas bermusiknya, david yang berjuang melawan penyakitnya, benar-benar menggugah hati dan menginspirasi. Pengalaman mereka yang sempat terjatuh dan bangkit kembali adalah perjuangan yang patut diapresiasi.

Dari buku ini juga saya bisa tau seberapa sulitnya menghasilkan sebuah lagu hingga bisa hadir dan bisa kita nikmati musiknya. Bahkan Ariel pernah lari ke Jogja hanya untuk untuk mencari inspirasi untuk menggenapi sebuah lirik lagu. Kisah Ariel yang ternyata pernah mengalami insomnia parah, sama seperti aku membuatku mengerti apa yang dirasakan Ariel kala itu *hug Ariel* Ariel juga menuturkan bahwa dia mencintai masa-masa dimana belum bnyak orang mengenalnya. ternyata popularitas itu memang tidak selalu menyenangkan yak.

Ohya, ada satu kalimat yang paling aku suka, kalimat ini adalah petuah Abu Bakar Baasyir kepada Ariel saat berada di penjara "Manusia di dunia ini memang untuk bikin kesalahan, lalu memperbaiki diri. Kalau semua orang sudah tidak bikin kesalahan lagi, maka semua ini akan dimatikan oleh Tuhan, karena tidak ada lagi tujuan kehidupan."

Meski banyak alur yang tidak runtut, namun aku bisa memakluminya, ini karya bersama, dan cerita non-fiksi jadi akan sangat susah untuk mengatur timing-nya, toh tidak mengurangi rasa yang dihadirkan kala membacanya. Tapi ada sebuah kalimat yang sampai saat ini belum mampu ku cerna artinya. Pada halaman 158, "Sebagian dari fans itu kerap menyampaikan kalimat-kalimat pembangun semangat, yang selalu saya bacakan di hadapan orang yang menulis" entah apa sebenarnya inti kalimat ini. Sempat terbesit mungkin yang menulis cerita ini bukan Ariel sendiri, mungkin Ariel menyewa gostwriter buat mengisahkan kisahnya. Mungkin juga. Ariel memang pembuat lagu dan lirik yang hebat, belum tentu dia bisa menulis buku dengan hebat pula. Tapi enggak apa-apa, kekurangan buk ini tidak membuatku mengurungkan niat untuk menganugrahi 5 bintang untuk hasil kerja keras dan kisah mereka.

Buku setebal 228 halaman, dengan bonus CD Suara Lainnya dan dihiasi photo keren dari Ariel dkk, rasanya puas banget deh beli buku ini. It's kind of an heart warming stories.

Akhirnya, semakin tinggi pohon itu, memang semakin kencang pula angin yang meniupnya.

"Kami akan meneruskan perjalanan..."